China (ANTARA) – Pasar “abu-abu” untuk daur ulang baterai kendaraan listrik (EV) dilaporkan berkembang pesat di China.
Laman Carnewschina, Jumat (30/1) melaporkan, bengkel-bengkel tanpa izin menangani sekitar 75 persen baterai kendaraan listrik yang sudah tidak digunakan lagi di negara tersebut.
Operasi ilegal ini menghasilkan keuntungan besar, diperkirakan sekitar 10.000 yuan (kisaran Rp24 juta) per kendaraan, namun menimbulkan risiko serius terhadap lingkungan dan keselamatan, serta melemahkan industri daur ulang resmi.
Di saat China bersiap menghadapi gelombang besar baterai EV yang memasuki masa pensiun, dominasi sektor tak teregulasi ini menjadi tantangan besar bagi pembangunan berkelanjutan.
Investigasi media China Yicai menemukan salah satu bengkel rahasia yang tersembunyi di dekat Kawasan Industri Qingcaowo, Huizhou, Guangdong. Bengkel ini beroperasi tanpa nama perusahaan dan dengan pengawasan gerbang yang ketat.
Di lokasi tersebut terlihat lebih dari 100 paket baterai yang sudah dibongkar berserakan di lantai beton, sebagian dicongkel, sebagian lain berada di dekat mesin pemotong kecil. Di dalamnya, para pekerja terlihat menguji sel baterai, membongkar paket baterai menggunakan bor, mengemas ulang sel yang telah “dipercantik” dengan lapisan baru, serta mengatur penjualan.
Baca juga: Pasar daur ulang baterai di China diproyeksi tembus Rp2 kuadriliun
Wu Lei (nama samaran), manajer bengkel tersebut, menjelaskan proses bisnis yang sederhana namun sangat menguntungkan: membeli paket baterai EV bekas dari seluruh China, membongkarnya menjadi sel-sel individual, menguji kualitasnya, lalu menyortirnya.
Sel berkualitas tinggi (yang masih memiliki lebih dari 50 persen kapasitas awal) diberi lapisan baru dan dijual kembali, biasanya kepada produsen kendaraan roda dua, roda tiga, power bank, dan sistem penyimpanan energi.
Sel berkualitas rendah atau yang rusak dihancurkan untuk mengekstraksi logam berharga seperti nikel, kobalt, dan litium.
Ponsel Wu Lei terus berdering menerima tawaran paket baterai, yang ia kumpulkan menggunakan truk derek.
Sumber baterai tersebut berasal dari perusahaan asuransi, rumah lelang, perusahaan transportasi daring, serta pemilik mobil perorangan. Ia mengklaim pernah memproses hampir 1.000 paket baterai dalam satu hari.
Sebagian pembongkaran dilakukan di lokasi, sering kali dengan praktik berbahaya seperti serpihan logam yang berhamburan dan pekerja tanpa alat pelindung. Paket baterai yang lebih kompleks dikirim ke fasilitas lain.
Insentif finansial dari operasi ilegal ini sangat besar. Bengkel kecil dapat membeli baterai dengan harga 0,5–0,6 yuan (sekitar Rp1.200) per Ah dan menjual kembali sel “rekondisi” seharga 1 yuan (Rp2.400) per Ah.
Baca juga: Riset AS dan China soroti penuaan dan regenerasi baterai EV bekas
Untuk satu sel berkapasitas 100 Ah, ini berarti keuntungan 50 yuan (sekitar Rp120 ribu). Sebuah kendaraan listrik dengan jarak tempuh 600 km biasanya memiliki sekitar 200 sel seperti ini, sehingga bengkel bisa memperoleh keuntungan sekitar 10.000 yuan (Rp24 juta) per kendaraan.
Margin besar ini memungkinkan mereka menawarkan harga hingga 30 persen lebih tinggi untuk baterai bekas dibandingkan perusahaan resmi dalam “daftar putih”, sehingga pasokan baterai “dicegat” oleh pasar abu-abu.
Pasar abu-abu ini tetap berkembang meskipun kapasitas daur ulang resmi sebenarnya besar.
Menurut “White Paper on China’s Lithium-ion Battery Recycling, Disassembly, and Cascade Utilization Industry (2024)”, kapasitas nominal daur ulang baterai China mencapai 3,8 juta ton, namun perusahaan “daftar putih” hanya memproses 623.000 ton, dengan tingkat pemanfaatan kapasitas kurang dari 18 persen.
Sebaliknya, entitas non–“daftar putih”, khususnya bengkel kecil, menyumbang 75 persen dari daur ulang baterai bekas yang sebenarnya terjadi.
Mendirikan bengkel kecil membutuhkan modal kurang dari 600.000 yuan (Rp1,4 miliar), tetapi dapat menghasilkan keuntungan hingga jutaan yuan.
Baca juga: China berhasil daur ulang 99,6% material penting dari baterai EV bekas
Bahaya lingkungan dan keselamatan
Ketiadaan prosedur yang benar di bengkel-bengkel ini menimbulkan risiko serius. Para pekerja sering terlihat tanpa perlengkapan keselamatan, dan bahan berbahaya ditangani secara sembarangan.
Hal yang paling penting, bengkel-bengkel ini tidak memiliki teknologi canggih untuk mencapai tingkat pemulihan logam berharga yang tinggi.
Perusahaan resmi seperti CATL mampu mencapai tingkat pemulihan litium di atas 90 persen serta pemulihan nikel, kobalt, dan mangan di atas 98 persen.
Sebaliknya, bengkel kecil hanya mampu melakukan pembongkaran dasar dan menghasilkan “bubuk hitam”, yaitu bahan mentah yang masih harus diproses lebih lanjut oleh fasilitas besar dan khusus.
Proses yang tidak efisien dan tidak aman ini menyebabkan pemborosan sumber daya dan pencemaran lingkungan.
Selain itu, operasi semacam ini umumnya tidak memiliki sistem keterlacakan, sehingga asal-usul dan tujuan akhir baterai daur ulang tidak dapat dilacak.
Wu Lei bahkan mengakui pernah mengganti sel dengan kapasitas berbeda ketika stok terbatas, yang menimbulkan kekhawatiran serius terkait kualitas dan keselamatan produk “rekondisi” tersebut.
Baca juga: Toyota ubah sampah jadi listrik, daur ulang baterai jadi lebih bersih
Respons industri dan regulasi baru
China kini memasuki fase pensiun baterai EV dalam skala besar, dengan perkiraan 820.000 ton pada 2025 dan lebih dari 1 juta ton pada 2030.
Menanggapi masalah yang terus membesar ini, regulasi baru berjudul “Interim Measures for the Management of Recycling and Comprehensive Utilization of Waste Power Batteries for New Energy Vehicles” akan mulai berlaku pada April mendatang.
Aturan ini bertujuan memperkuat keterlacakan informasi, pengelolaan daur ulang, dan pemanfaatan menyeluruh, serta mendorong sinergi industri “produksi–daur ulang–regenerasi”.
Namun, banyak pemilik bengkel kecil tetap yakin dapat mengamankan pasokan baterai, didorong oleh dinamika pasar “penawar tertinggi yang menang”.
Feng Siyao, Wakil Sekretaris Jenderal Cabang Aplikasi Penyimpanan Energi dari Asosiasi Industri Catu Daya Kimia dan Fisika China, menyatakan bahwa rendahnya pemanfaatan kapasitas daur ulang resmi disebabkan oleh ketidaksesuaian antara “ekspansi kapasitas” dan “pasokan baterai pensiun yang dapat diatur”.
Ia memperingatkan bahwa bengkel kecil tidak hanya “merebut bahan baku”, tetapi juga menciptakan risiko sistemik, termasuk inflasi harga dan gangguan pada sistem keterlacakan baterai.
Kementerian Ekologi dan Lingkungan China telah melakukan lebih dari 8.300 inspeksi terhadap unit pembongkaran dan pemrosesan baterai bekas.
Mereka menekankan bahwa daur ulang baterai tenaga bekas sangat penting bagi keselamatan pribadi, keamanan aset, dan perlindungan lingkungan, serta mengimbau konsumen untuk mendukung regulasi baru dan menghindari penyerahan baterai ke jalur yang tidak teregulasi.
Baca juga: Bosch hadirkan cara baru yang lebih aman mendaur ulang baterai EV
Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026











