Jakarta (ANTARA) – Ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi industri otomotif global, termasuk Indonesia, membuat sebagian konsumen memilih menahan diri untuk melakukan pembelian, termasuk untuk kendaraan segmen premium.
Namun Mercedes-Benz Indonesia menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya menjadi penghalang karena keputusan membeli mobil premium tidak semata didorong faktor rasional.
Chief Executive Officer (CEO) Mercedes-Benz Indonesia Donald Rachmat di Jakarta, Selasa, menyampaikan bahwa pasar kendaraan premium memiliki karakteristik berbeda dibandingkan segmen massal.
Baca juga: Pemerintahan Trump pernah bujuk Mercedes agar pindahkan markas ke AS
“Mungkin karena situasi ekonomi yang saat ini sedang tidak stabil bisa jadi konsumen melakukan penundaan pembelian. Tetapi ada faktor-faktor yang diluar itu, yang bukan sekedar fungsional sebagai sebuah kendaraan, tapi, merek kami memiliki ikatan emosional yang sangat kuat antara pemilik dan kendaraan.” kata dia.
Permintaan tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan fungsional, tapi, juga oleh hubungan emosional yang terbangun antara konsumen dan merek. Ikatan tersebut dinilai mampu melampaui kondisi ekonomi yang fluktuatif.
Menurut Mercy Indonesia, penundaan pembelian bisa saja terjadi seiring situasi ekonomi yang belum stabil. Meski demikian, Mercedes-Benz melihat adanya faktor lebih dari sekadar alasan fungsional yang membuat konsumen tetap memiliki keinginan kuat terhadap produk premium.
Ketika koneksi emosional dengan merek sudah terbentuk, keputusan pembelian kerap didorong oleh rasa kecintaan dan aspirasi, bukan semata pertimbangan ekonomi jangka pendek, menurut Donald.
Untuk menjaga minat konsumen, Mercy tidak hanya mengandalkan produk, tapi, juga pengalaman menyeluruh.
Baca juga: Penjualan anjlok, Mercedes-Benz kembangkan hunian mewah di Dubai
Pabrikan Jerman itu berupaya untuk terus menghadirkan layanan yang memungkinkan konsumen merasakan perjalanan personal dalam memilih kendaraan, mulai dari observasi, pemilihan warna, hingga penentuan spesifikasi, khususnya untuk model-model kelas atas.
Mereka meyakini bahwa pengalaman dan hubungan emosional yang konsisten akan menjadi strategi utama untuk menjaga daya tarik merek, bahkan ketika konsumen premium cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
“Dan faktor emosional itu akan mengeliminasi faktor-faktor lainnya karena ketika emosional itu sudah terkoneksi, keinginan itu sudah ada, kecintaan terhadap merek itu ada, dan konsumen akan membeli berdasarkan faktor emosional,” ujar Donald.
Di Indonesia, penjualan mobil mewah secara ritel atau distribusi dari diler ke konsumen mengalami penurunan cukup tajam yakni 33 persen.
Sepanjang Oktober 2025, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkap penjualan ritel mobil mewah hanya 391 unit. Sementara pada September 2025, angka penjualan menembus 588 unit.
Baca juga: Proyek kendaraan listrik premium Volkswagen dilaporkan ditunda lagi
Baca juga: Saingi Tesla, Geely siap luncurkan merek EV premium baru
Baca juga: BMW iX3 dibekali AI Alexa yang dapat diajak berdialog layaknya manusia
Baca juga: Rolls-Royce diperkirakan sedang menyiapkan SUV elektrik
Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026











