Amerika Serikat (ANTARA) – CEO Mercedes-Benz Ola Kallenius mengungkapkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump pernah berusaha membujuk perusahaan agar memindahkan kantor pusatnya ke Amerika Serikat (AS).
Namun, produsen mobil asal Jerman itu pada akhirnya memutuskan untuk menolak tawaran tersebut menurut siaran Carscoops pada Kamis.
Kepada The Pioneer, Kallenius mengatakan bahwa Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick berupaya membujuk Mercedes agar memindahkan markasnya ke Amerika dengan menawarkan keringanan pajak dan insentif yang lain.
Tawaran semacam itu bisa mendorong beberapa perusahaan untuk memindahkan kantor pusat mereka dari satu negara bagian ke negara bagian lain, tetapi tampaknya tidak terlalu menggiurkan bagi perusahaan asing seperti Mercedes.
Sebagaimana dikutip dalam laporan Bloomberg, Kallenius menyampaikan bahwa Mercedes-Benz berakar di Swabia, wilayah bersejarah di Jerman.
“Bintang bersudut tiga ini (Mercedes-Benz) telah menjadi perusahaan global selama lebih dari 100 tahun, tetapi kami berakar di Swabia. Akar tersebut tidak bisa, dan tidak seharusnya, dicabut dari tanahnya,” kata Kallenius.
Tawaran insentif dari pemerintah AS dilaporkan disampaikan ke Mercedes hampir setahun lalu, pada awal masa pemerintahan periode kedua Trump.
Baca juga: Penjualan Mercedes turun, terdampak kebijakan tarif Trump
AS dikabarkan berusaha menekan produsen otomotif untuk membangun fasilitas di dalam negeri dengan memberlakukan tarif tinggi.
Mercedes telah memiliki pabrik besar di Tuscaloosa, Alabama, tetapi perang dagang diwartakan telah mendorong perusahaan itu untuk mengumumkan rencana memproduksi GLC di Amerika Serikat mulai tahun 2027.
Model tersebut akan diproduksi bersama GLE, GLE Coupe, GLS, EQE SUV, dan EQS SUV.
Mercedes juga mengumumkan pembangunan pusat riset dan pengembangan baru di negara bagian Georgia.
Baca juga: Penjualan anjlok, Mercedes-Benz kembangkan hunian mewah di Dubai
Baca juga: Merceds-Benz hentikan produksi sedan dan SUV EQE pada 2026
Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026











